Lima Wisata Budaya untuk Si Kecil

Kompas.com - 24/07/2012, 07:58 WIB

KOMPAS.com – Tinggal di kota-kota besar, seperti Jakarta, membuat anak begitu dekat dengan modernitas. Permainan modern, lalu menghabiskan akhir pekan di mal. Seorang anak pun berhak untuk bersentuhan dengan budaya tradisional. Dari budaya tradisional yang ia pelajari inilah, anak mengenal latar belakang dirinya sendiri. Hal yang akan membentuk jati dirinya kelak.

Atau, sesekali perkenalkan si kecil budaya daerah lain, sehingga ia semakin mengenal keragaman budaya di Indonesia, pun belajar toleransi. Jika Anda tinggal di Jakarta, berikut beberapa ide berakhir pekan bersama anak sambil mengenalkan ia pada budaya-budaya tradisional Indonesia.

Belajar Wayang. Sebelumnya, coba ajak si kecil mampir ke Museum Wayang yang terdapat di kawasan Kota Tua Jakarta. Di sana ia bisa melihat beragam wayang dari seluruh penjuru Indonesia.

Setelah itu ajak si kecil menonton pertunjukan wayang. Biasanya di akhir pekan Museum Wayang menggelar pertunjukan wayang. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga kerap mengelar pertunjukan wayang.

Syukur-syukur jika ia tertarik, bisa Anda ajak berlatih menjadi dalang. Anda bisa mendatangi Istana Anak yang berada di kawasan TMII. Di tempat tersebut, terdapat sanggar khusus untuk pelatihan dalang-dalang cilik.

Jangan kaget. Walau dialog yang dibawakan pedalang dalam Bahasa Jawa, nyatanya peserta pelatihan banyak yang bukan berlatar belakang Suku Jawa.

Menari Tarian Tradisional. Di Jakarta sudah ada beberapa sanggar tari yang menawarkan kursus menari tarian tradisional bagi anak-anak. Pilihannya pun beragam, tidak hanya tarian Jawa ataupun tarian Sunda.

Jika anak Anda sudah pawai menarikan suatu tarian daerah, bagaimana kalau sesekali mencoba mengenalkan tarian dari daerah lain. Ajak saja terlebih dahulu si kecil melihat aneka tarian lintas suku.

Selain sanggar-sanggar tari, salah satu tempat yang bisa Anda kunjungi adalah Taman Ismail Marzuki dan TMII. Hampir semua anjungan daerah di TMII memiliki sanggar tari masing-masing.

Menonton Sendratari. Si kecil mungkin sudah terbiasa menonton tarian tradisional di sekolah. Bagaimana kalau sendratari? Sebuah pentas drama penuh tarian mungkin jarang ia saksikan.

Apalagi tarian yang digunakan khas suatu daerah, pun begitu dengan bahasanya. Salah satu sendratari yang terkenal di Jakarta adalah wayang orang yang dikelola Wayang Orang Bharata di daerah Senen.

Membuat Batik. Indonesia gudangnya kerajinan tangan tradisional yang cara pembuatannya sarat makna. Sebut saja seperti tenun, aneka anyaman, sampai batik. Saat ini, hampir setiap daerah memiliki batik dengan corak khas masing-masing daerah. Sebut saja mulai dari batik Jakarta, batik Bogor, sampai batik Papua.

Untuk memperkenalkan batik dan keanekaragaman kain di Indonesia, bisa ajak si kecil ke Museum Tekstil. Setelah memperkenalkan aneka kain, si kecil bisa belajar melukis batik dengan menggunakan canting dan malam.

Belajar Musik Tradisional. Di beberapa sekolah, belajar alat musik tradisional sudah diperkenalkan. Namun, tak ada salahnya semakin memperdalam keahlian bermain alat musik tradisional.

Apalagi jika si kecil memang tertarik pada seni musik. Beberapa sanggar di Jakarta menyediakan kursus memainkan alat musik angklung atau gamelan. Anjungan-anjungan daerah di TMII juga bisa memberikan referensi tempat belajar alat musik tradisional.

Berburu Kuliner Daerah. Jakarta dan sekitarnya ibarat miniatur kecil Indonesia. Inilah salah satu keuntungan tinggal di Jakarta. Anda bisa menemukan berbagai macam kuliner khas Indonesia dari Sabang sampai Merauke di Jakarta.

Mau coba papeda khas Papua dan Maluku? Pelesir saja ke daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di Woltermonginsidi, Jakarta Selatan, sebuah rumah makan menawarkan masakan khas Bali.

Jika anak Anda terbiasa makan burger atau hotdog, bagaimana kalau momen bulan puasa saat ini bawa si kecil berbuka di restoran-restoran yang menghidangkan menu khas daerah di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau